Langsung ke konten utama

Radikalisme versus universalisme

 Radikalisme berhadapan dengan universalisme berbenturan karena mempertahankan prinsipnya masing-masing. Radikalisme pada dasarnya berpegang teguh pada prinsipnya yang mengakar kuat. Ego berprinsip sangat menonjol disebabkan hilangnya kehendak untuk menerima prinsip-prinsip kebenaran yang datang dari sumber lain. Tak heran jika masih saja tampak pemandangan di seantero jagat aliran-aliran yang bersifat radiks beroposisi dengan doktrin lain yang sudah menjadi prinsip/aturan umum.

Keterbukaan tak ayal menjadi penghalang bagi kelompok radikalisme. Ini disebabkan karena adanya kekhwatiran terjadinya perubahan konsep dan pandangan yang yang sudah tertanam kuat dalam diri penganutnya. Mengesampingkan dialog dan komunikasi adalah cirinya. 

Lantas, apa yang menjadi penilaian publik tentang kaum-kaum radikalis? Mereka adalah bagian dari sekutu masyarakat. Entah penilaian baik atau buruk tergantung pada cara tindakannya/perbuatannya, apakah menguntungkan atau merugikan sesama!

Berbeda dengan prinsip universalisme. Menjunjung tinggi keterbukaan, berkehendak baik untuk menerima doktrin dari luar untuk membangun suasana komunal bukan kelompok tertentu. Berpegang pada jargon "mereka adalah kita, bukan mereka adalah kami"!. 

Menjembatani prinsip radikalisme dan universalisme  adalah pola dialog dan komunikasi. Tidak ada cara lain! Kalaupun ada setidaknya dengan cara kekerasan atau ekstrimis yang mendatangkan durjana buka n perdamaian. 


Selamat membaca...semoga bermanfaat!


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ketika Sang Khalik Memanggil Pulang

 Mendung hitam di langit akhir September  2014 seakan memberi isyarat pada penghuni jagat bahwa ada unsur kehidupan semesta yang pamit pulang ke keabadian. Berpisah kepada kehidupan untuk kembali lagi ke tanah. Penghujung September kelabu, tak ada  riang menghiasi wajah-wajah anak jagat. Malaikat maut merampas kebahagiaan, menghalau kegembiraan. Menyoraki tangisan dan nestapa. Lonceng kematian terus berdentang kuat, mendendangkan kidung-kidung nestapa. Mendiang bapak Hermanus Huru pamit pulang ke rahim Ilahi. Pamit tanpa basa-basi, namun meninggalkan wasiat-wasiat tersirat menjadi catatan-catatan dan kenangan-kenangan yang terbungkus rapi dalam balutan kalbu.  "Sebelum saya dipanggil pulang, Tuhan perkenankan saya melihat anak-anakku bahagia". Sepenggal doa dirapalkannya ke langit yang rupanya disambut baik sang Khalik.  Sebelum menghembuskan nafas terakhirnya saat perjalanan pulang dari RSUD Ben Mboy Ruteng, beliau dibuntuti sejumlah penyakit mulai dari khatara...

Kids Zaman Now, Korban Perhambaan Teknologi?

 Istilah 'Kids Zaman Now' lebih diperuntukkan bagi anak-anak atau kalangan yang hidup di zaman sekarang. Perbedaan gaya hidup 'Kids Zaman Old' dan Kids Zaman Now' terletak pada kebiasaan. Kehidupan 'Kids Zaman Old' lebih mendominasi ruang nyata, sementara 'Kids Zaman Now' lebih mendominasi ruang maya. Kids Zaman Old ditandai dengan kesenangan seperti bermain kucing- kucingan, kejar-kejaran. Sedangkan Kids Zaman Now ditandai dengan kesenangan berselancar di internet, bermain game dan sejenisnya.Barangkali itulah yang membedakan Kids Zaman Old dan Zaman Now. Kata Kids sebagai bentuk jamak dari kid, diserap dan diadaptasi dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia. Kid berarti anak, sedangkan kids berarti anak-anak. Jadi, Kids Zaman Now berarti anak-anak yang hidup dizaman sekarang. Apa yang membedakan kehidupan anak-anak zaman sekarang dan zaman dulu adalah kebiasaan dan gaya hidup. Kids Zaman Now adalah generasi yang lahir tahun 90-an hingga tahun 2000-a...

Guru Kampung Tapi Bukan Kampungan

Siswa SMPN 23 Senopi sedang mendengar arahan guru   Menjadi guru di daerah pedalaman (pelosok) negeri bukan sesuatu yang mudah. Betul-betul mesti memiliki jiwa pengabdian, jiwa militan dan siap menerima konsekuensi apapun. Dengan prinsip "memanusiakan manusia" sebagai spirit penopang untuk tetap menjalankan tugas dan pengabdian. Menghadapi siswa-siswi yang berada di perkampungan (pedalaman) berarti peserta didiknya memiliki latar belakang kebudayaan hampir sama alias berasal dari masyarakat homogen. Situasi belajar dan pembelajaran di pedalaman yang jauh dari hiruk-pikuk suasana perkotaan menjadikan para guru memiliki pengalaman lebih asyik dan catatan sejarah tersendiri.  Itulah gambaran para guru yang sementara ini bertugas di SMPN 23 Senopi, kabupaten Tambrauw Papua Barat. Sekolah ini berada di sisi jalan Trans Papua Barat. Meskipun letak sekolah ini di pelosok kabupaten Tambrauw, namun setidaknya dari segi akses transportasi darat cukup lancar karena menghubungkan dua kot...